Selasa, 09 Maret 2010

METODE ILMIAH


Pengertian metode ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Metode ilmiah mengacu pada tubuh teknik untuk menyelidiki fenomena baru memperoleh pengetahuan, atau mengoreksi dan mengintegrasikan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode penelitian harus didasarkan pada pengumpulan diamati, empiris dan terukur bukti tunduk pada prinsip-prinsip metode ilmiah itu dikendalikan oleh garis-garis pemikiran yang konseptual dan procedural. Pemikiran konseptual itu berupa gagasan-gagasan orisinal dan pemikiran procedural itu mulai dengan observasi dan percobaan, dan berakhir dengan pernyataan-pernyataan umum.
Meskipun prosedur bervariasi dari satu bidang penelitian yang lain, fitur diidentifikasi membedakan penyelidikan ilmiah dari metodologi pengetahuan lainnya. Ilmiah peneliti mengajukan hipotesis sebagai penjelasan dari fenomena, dan desain eksperimen studi untuk menguji hipotesis ini.Langkah-langkah ini harus diulang dalam rangka dependably memprediksi hasil di masa mendatang.Teori yang mencakup wilayah yang lebih luas penyelidikan dapat mengikat banyak hipotesis yang diturunkan secara independen bersama-sama dalam suatu koheren, struktur pendukung. Hal ini pada gilirannya dapat membantu membentuk hipotesis baru atau tempat kelompok dalam konteks hipotesis.
Di antara aspek lain bersama oleh berbagai bidang penyelidikan adalah keyakinan bahwa proses menjadi tujuan untuk mengurangi interpretasi hasil. Harapan dasar lainnya adalah dokumen, arsip dan berbagi semua data dan metodologi sehingga mereka tersedia untuk berhati-hati dicermati oleh ilmuwan lain, sehingga memungkinkan peneliti lain kesempatan untuk memverifikasi hasil dengan mencoba mereproduksi mereka. Praktik ini, yang disebut pengungkapan penuh, juga memungkinkan ukuran statistik darikeandalan data ini yang akan didirikan.

Unsur-unsur metode ilmiah terdiri dari:
1.Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi ya ng cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan observasi; observasi yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.
Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi.

2.Hipotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi. Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium atau observasi suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat statistik dan hanya berupa probabilitas. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya (apakah benar-benar akan terjadi atau tidak). Hanya dengan demikianlah maka terjadinya hasil tersebut menambah probabilitas bahwa hipotesis yang dibuat sebelumnya adalah benar. Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui, hal itu disebut konsekuensi dan seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika prediksi tersebut tidak dapat diobservasi, hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan datang. Sebagai contoh, teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan eksperimen untuk dapat dilakukan

3.Eksperimen
Setelah prediksi perbaikan atau bahkan perlu ditinggalkan. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi, maka hipotesis tersebut dibuat, hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Jika hasil eksperimen bertentangan dengan prediksi, maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah benar atau tidak lengkap dan membutuhkan boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut. Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi dari hipotesis.Bergantung pada prediksi yang dibuat, berupa-rupa eksperimen dapat dilakukan. Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau ekskavasi arkeologis. Eksperimen bahkan dapat berupa mengemudikan pesawat dari New York ke Paris dalam rangka menguji hipotesis aerodinamisme yang digunakan untuk membuat pesawat tersebut. Pencatatan yang detail sangatlah penting dalam eksperimen, untuk membantu dalam pelaporan hasil eksperimen dan memberikan bukti efektivitas dan keutuhan prosedur yang dilakukan. Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.
Langkah-langkah metode ilmiah:
1. Observasi Awal
2. Mengidentifikasi Masalah
3. Merumuskan atau Menyatakan Hipotesis
4. Melakukan Eksperimen
5. Menyimpulkan Hasil Eksperimen

1.Observasi Awal
Setelah topik yang akan diteliti dalam proyek ilmiah ditentukan, langkah pertama untuk melakukan proyek ilmiah adalah melakukan observasi awal untuk mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut melalui pengalaman, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang sesuai.
•Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview, dll.
•Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll.
•Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.

2.Mengidentifikasi Masalah
Permasalahan merupakan pertanyaan ilmiah yang harus diselesaikan. Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan, bukan jawaban ya atau tidak. Sebagai contoh: Bagaimana cara menyimpan energi surya di rumah?
• Batasi permasalahan seperlunya agar tidak terlalu luas.
• Pilih permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti.
• Pilih permasalahan yang dapat diselesaikan secara eksperimen.

3.Merumuskan atau Menyatakan Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Hipotesis dirumuskan atau dinyatakan sebelum penelitian yang seksama atas topik proyek ilmiah dilakukan, karenanya kebenaran hipotesis ini perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang seksama. Yang perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan salah.
•Gunakan pengalaman atau pengamatan lalu sebagai dasar hipotesis
•Rumuskan hipotesis sebelum memulai proyek eksperimen

4.Melakukan Eksperimen
Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen: variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.
Variabel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat adalah variabel yang diteliti dan perubahannya bergantung pada variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.
•Usahakan hanya satu variabel bebas selama eksperimen.
•Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang diasumsikan konstan.
•Lakukan eksperimen berulang kali untuk memvariasi hasil.
•Catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.

5.Menyimpulkan Hasil Eksperimen
Kesimpulan proyek merupakan ringkasan hasil proyek eksperimen dan pernyataan bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Alasan-alasan untuk hasil eksperimen yang bertentangan dengan hipotesis termasuk di dalamnya. Jika dapat dilakukan, kesimpulan dapat diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.
Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis:
•Jangan ubah hipotesis
•Jangan abaikan hasil eksperimen
•Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai
•Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian
•Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang eksperimen.

Keunggulan metode ilmiah
1.mencintai kebenaran obyektif, bersifat adil dan hidup bahagia
2.kebenaran tidak absolut karena kebenaran dicari secara terus menerus
3.dengan ilmu pengetahuan kita tidak dapat dengan mudah percaya pada takhayul, astrologi maupun untung-untungan karena terjadi proses yang teratur di alam
4.dengan ilmu pengetahuan kita memiliki rasa ingin tahu yang lebih banyak
5.dengan ilmu pengetahuan kita tidak mudah berprasangka tetapi dapat berpikir secara terbuka, obyektif, dan toleran
6.dengan metode ilmiah kita tidak mudah percaya tanpa bukti
7.dengan metode ilmiah kita jadi memiliki sikap optimis, teliti, berani membuat pernyataan yang benar menurut ilmiah

Kelemahan dari metode ilmiah
1.Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objek-objek material yang dapat di indera. Metode ini khusus untuk ilmu-ilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang asli.
2.Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya, kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi.
3.Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan).
Macam-macam metodologi ilimiah ada dua macam yaitu :
- Metodologi penelitian
- Metodologi penulisan


1.Metodologi penelitian
Metodologi penelitian pada hakekatnya merupakan operasionalisasi dari epistemologi kearah pelaksanaan penelitian. Epistemologi memberi pemahaman tentang cara/teori menemukan atau menyusun pengetahuan dari idea, materi atau dari kedua-duanya serta merujuk pada penggunaan rasio, intuisi, fenomena atau dengan metode ilmiah¬¬. Sehingga bagaimana menemukan atau menyusun pengetahuan memerlukan kajian atau pemahaman tentang metode-metode. Dalam pengertian ini perlu dibedakan antara metode dan teknik. Secara keilmuan, metode dapat diartikan sebagai cara berpikir, sedangkan teknik diartikan sebagai cara melaksanakan hasil berpikir. Jadi metodologi penelitian dapat diartkan Ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuan.
Makna penelitian secara sederhana ialah bagaimanakah mengetahui sesuatu yang dilakukan melalui cara tertentu dengan prosedur yang sistematis (Garna, 2000:1). Proses sistematis ini tidak lain adalah langkah-langkah metode ilmiah. Jadi pengertian dari metodologi penelitian itu dapat diartikan sebagai pengkajian atau pemahaman tentang cara berpikir dan cara melaksanakan hasil berpikir menurut langkah-langkah ilmiah.

Tujuan Metodologi Penelitian adalah;
1.Dapat menyusun laporan/tulisan/karya ilmiah baik dalam bentuk paper, skripsi, thesis maupun disertasi.
2.Mengetahui arti pentingnya riset, sehingga keputusan-keputusan yang dibuat dapat dipikirkan dan diatur dengan sebaik-baiknya.
3.Dapat menilai hasil-hasil penelitian yang sudah ada, yaitu untuk mengukur sampai seberapa jauh suatu hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Macam-macam penelitian secara umum dapat digolongkan sebagai berikut:
1.Menurut bidangnya

a.Penelitian pendidikan
Penelitian pendidikan pada umumnya mengandung dua ciri pokok, yaitu logika dan pengamatan empiris (Babbie, 1986:16). Metodologi dalam arti umum, adalah studi yang logis dan sistematis tentang prinsip-prinsip yang mengarahkan penelitian ilmiah. Pelaksanaan penelitian bersifat dinamis: yaitu penelitian yang bersifat terbuka, dilakukan dengan berbagai pendekatan yang tidak kaku (rigit). Proses penelitian diketahui adalah proses yang dinamis, artinya perkembangan suatu teori diawali dengan pemahaman terhadap teori itu sendiri, yang kemudian menghasilkan hipotesis, lalu dari hipotesis itu diperoleh cara untuk melakukan observasi, dan pada gilirannya observasi itu menghasilkan generalisasi.

b.Penelitian sejarah
Penelitian sejarah atau historis adalah untuk memahami masa lalu, dan mencoba memahami masa kini atas dasar persitiwa atau perkembangan di masa lampau.

Tujuan dari penelitian sejarah antara lain;
•Membuat orang menyadari apa yang terjadi pada masa lalu sehingga mereka mungkin mempelajari dari kegagalan dan keberhasilan masa lampau;
•Mempelajari bagaimana sesuatu telah dilakukan pada masa lalu, untuk melihat jika mereka dapat mengaplikasikan maslahnya pada masa sekarang;
•Membantu memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang;
•Membantu menguji hipotesis yang berkenaan dengan hubungan atau kecendrungan. Misalnya pada awal tahun 1990, mayoritas guru-guru wanita datang dari kelas menengah ke atas, tetapi guru laki-laki tidak;
•Memahami praktik dan politik pendidikan sekarang secara lebih lengkap.

c.Penelitian biologi

2. Menurut tempatnya
a. Penelitian laboratorium
Penelitian Laboratorium dilaksanakan pada tempat tertentu / lab, biasanya bersifat eksperimen atau percobaan. Penelitian laboratorium biasanya dilakukan dalam bidang ilmu eksakta, misalnya penelitian kedokteran, elektro, sipil dll.nya
b. Penelitian perpustakaan
Penelitian perpustakaan dilakukan di perpustakaan dengan melakukan kajian terhadap literature, penelitian sebelumnya, jurnal dan sumber-sumber lainnya yang ada di perpustakaan. Dengan semakin canggihnya teknologi informasi, maka penelitian jenis ini saat ini tidak harus dilakukan di perpustakaan secara fisik, tetapi juga dapat dilakukan dari lokasi mana saja dengan memanfaatkan Internet sebagai media untuk mencari informasi di perpustakaan-perpustakaan di seluruh dunia yang membuat data mereka dapat diakses secara langsung oleh pengguna secara gratis dan kapan saja.
3. Menurut pemakaiannnya
a. Penelitian murni (pure research)
Penelitian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian dan keingintahuan terhadap hasil suatu aktivitas. Penelitian dasar dikerjakan tanpa memikirkan pada pemanfaatan hasil penelitian tersebut untuk manusia masyarakat. Penelitian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian dan keingintahuan terhadap hasil suatu aktivitas. Penelitian dasar dikerjakan tanpa memikirkan pada pemanfaatan hasil penelitian tersebut untuk manusia masyarakat. Contoh penelitian murni misalnya penelitian tentang gene,tentang nucleus, dan sebagainya.
b. Penelitian terpakai (applied research)

Penelitian terpakai merupakan kegiatan ilmiah untuk mengungkapkan gejala alam dan gejala sosial dalam kehidupan. Yang dipandang perlu diperbaiki karena memiliki berbagai kekurangan atau kelemahan dengan menggunakan metode yang sitematis, teratur tertib dan dapat dipertanggung jawabkan.

4. Menurut tujuannya
a. Penelitian eksploratif
Penelitian eksploratif, adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu dapat saja berupa pengelompokan suatu gejala, fakta, dan penyakit tertentu. Penelitian ini banyak memakan waktu dan biaya.
b. Penelitian developmental
Penelitian ini dimulai dengan Research dan diteruskan dengan Development. Kegiatan Research dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan pengguna (Needs Assesment). Sedangkan Kegiatan Development digunakan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran. Misalnya: penelitian yang meneliti tentang pemanfaatan terapi gen untuk penyakit-penyakit menurun

c. Penelitian verifikatif
Penelitian verifikatif merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel melalui suatu pengujian hipotesis. Misalnya saja, masyarakat mempercayai bahwa air sumur Pak Daryan mampu mengobati penyakit mata dan kulit. Fenomena ini harus dibuktikan secara klinik dan farmakologik, apakah memang air tersebut mengandung zat kimia yang dapat menyembuhkan penyakit mata.

5. Menurut tarafnya
a. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif ini juga disebut penelitian praeksperimen. Karena dalam penelitian ini mereka melakukan eksplorasi, menggambarkan, dengan tujuan untuk dapat menerangkan dan memprediksi terhadap suatu gejala yang berlaku atas dasar data yang diperoleh di lapangan. Penelitian deskriptrif ini hanya berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap pertanyaan penelitian yang telah ditentukan sebelum para peneliti terjun ke lapangan dan mereka tidak menggunakan hipotesis sebagai petunjuk arah atau guide dalam penelitian.
b. Penelitian inferensial
Penelitian inferensial melakukan analisis hubungan antar variabel dengan pengujian hipotesis. Dengan demikian, kesimpulan penelitian jauh melebihi sajian data kuantitatif saja, dan diupayakan bersifat umum.


6. Menurut Pendekatannya (approach)

a. Penelitian longitudinal
Penelitian longitudinal adalah penelitian yang dilakukan dengan waktu penelitian lama, memerlukan biaya yang relatif besar, dan melibatkan populasi yang mendiami wilayah tertentu, dan dipusatkan pada perubahan variabel amatan dari waktu ke waktu. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/atau perubahan sesuatu hal, sejalan dengan berlangsungnya perubahan waktu.

b.Penelitian cross-sectional (Lintas-bagian)
Penelitian lintas-bagian adalah penelitian yang mengukur prevalensi penyakit,Oleh karena itu seringkali disebut sebagai penelitian prevalensi.
Penelitian lintas-bagian relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dan populasi tersebut. instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui survei, wawancara, dan isian kuesioner.

2. Metodologi penulisan

Tujuan metodologi penulisan diantaranya;
a.Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis.
b.Meningkatkan kemampuan menggunakan fakta untuk menyokong kesimpulan umum yang ditarik dari fakta atu untuk menyokomg rekomendasi.
c.Belajar untuk dapat membedakan antara fakta dari pendapat,membedakan istilah-istilah atau kata-kata yang meotif dari kata-kata yang referensial,serta belajar untuk menghilangkan pendapat yang tanpa dukungan bukti.
d.Meningkatkan keterampilan dalam menulis berbagai karya tulis dengan mencari beda antara karangan non ilmiah dan karangan ilmiah.
e.Meningkatkan pengetahuan tentang mekanisme penulisan karangan ilmiah.

Dalam metode ilmiah karangan terdiri dari;
1. Karangan ilmiah
2. Karangan semi ilmiah
3. Karangan non ilmiah

1.Karangan ilmiah
Karangan ilmiah yaitu karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan ditulis menurut metodologi tulis yang baik dan benar dan disusun secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi yang spesifik. Karangan ilmiah itu ditulis dengan jujur tanpa adanya penipuan. Dalam karangan ilmiah itu dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan umum,tetapi penulisnya tidak secara langsung mengajak pembaca untuk menyetujui kesimpulan atau pernyataan yang dikemukakan. Oleh sebab itu, dalam penulis karangan ilmiah penulis tidak boleh melebih-lebihkan penilaiannya tentang suatu data.

Langkah-langkah penulisan karangan ilmiah
1. Meringkaskan hasil penelitian yang telah dikerjakan oleh orang lain
2. Menentukan problem(masalah)
3. Memecahkan problem
4. Membentuk hipotesis
5. Menguji hipotesis
6. Memperluas atau mengubah hipotesis
7. Menguji hipotesis yang diperluas atau diubah
8. Menerbitkan hasil penelitian

Ciri-ciri karangan ilmiah

1.Jelas. Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.
2.Logis. Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.
3.Lugas. Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
4.Objektif. Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
5.Seksama. Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya
6.Sistematis. Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan
7.Tuntas. Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.
Contoh karangan ilmiah dapat berupa makalah, usulan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi. Makalah adalah karangan ilmiah yang membahas suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup perkuliahan, seminar, simposium, atau pertemuan ilmiah lainnya. Makalah terdiri atas judul karangan, abstrak, pendahuluan, pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka.
Usulan penelitian atau proposal adalah usulan tentang suatu hal sebagai rencana kerja atau penelitian yang dituangkan dalam bentuk rancangan penelitian. Usulan penelitian memuat judul, latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, hipotesis, metode penelitian, jadwal kegiatan, sistemetika penulisan, dan daftar pustaka.
Skripsi adalah pelatihan pembuatan karangan ilmiah yang berupa naskah teknis sebagai persyaratan bagi calon sarjana. Tesis adalah karangan ilimiah yang menitikberatkan pada metodologi penelitian dan metodologi penulisan. Disertasi adalah karangan ilmiah yang selain mementingkan metodologi penelitian dan penulisan juga harus menemukan paradigma baru tentang suatu ilmu.

2.Karangan ilmiah popular atau semi ilmiah

Karangan ilmiah popular atau semi ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang benar. Karangan jenis semiilmiah biasa dinamai ilmiah popular.


Ciri-ciri karangan semi ilmiah

a. ditulis berdasarkan fakta pribadi,
b fakta yang disimpulkan subyektif,
c gaya bahasa formal dan popular,
d mementingkan diri penulis,
e melebihkan-lebihkan sesuatu,
f usulan-usulan bersifat argumentatif, dan
g bersifat persuasif.

Contoh karangan semi ilmiah atau ilmiah popular yaitu artikel, editorial, opini, tips, dan resensi buku. Berikut adalah resensi buku berupa apresiasi berupa apresiasi terhadap sebuah karya sastra. Resensi buku adalah bentuk kombinasi antara uraian, ringkasan, dan kritik objektif terhadap sebuah buku. Klasifikasi pembuatan resensi buku ilmiah yaitu ringkasan, deskripsi, kritik, apresiasi, dan praduga. Klasifikasi pembuatan resensi buku nonilmiah seperti puisi dan novel yaitu ringkasan, deskripsi, kritik, dan apresiasi.

3.Karangan non ilmiah

Karangan nonilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam karangan non ilmiah ,karangan tersebut tidak memiliki aturan baku. Contoh karangan ilmiah adalah drama,cerpen,dongeng,roman, dan novel.

Ciri-ciri karangan non ilmiah

a. ditulis berdasarkan fakta pribadi,
b. fakta yang disimpulkan subyektif,
c. gaya bahasa konotatif dan populer,
d. tidak memuat hipotesis,
e. penyajian dibarengi dengan sejarah,
f. bersifat imajinatif,
g. situasi didramatisir, dan
h. bersifat persuasif.


referensi :
Tomy.2008.“Mengenal ragam bahasa karangan ilmiah”.Dalam http://tomy-group/blogspot.com.
Wahyu,Tri R.2009.“Karilmiah”.Dalam http:_wahyu.staff.gunadarma.ac.id.
Alphaomega.2008.“Metode Ilmiah”.Dalam http://alphaomega86.tripod.com.
Google.2009.“Metode Ilmiah”.Dalam http://www.google.com.

0 komentar:

Poskan Komentar